KATA OMED

7 Upacara Adat Jawa Barat Yang Masih Dilakukan

Published · Updated

Salah satu dari upacara adat Jawa Barat yang masih sering dilakukan hingga saat ini, diantaranya seperti Bubur Syura.

Tepatnya, setiap 10 Muharam, sebagai tanggal dan bulan yang dianggap suci berdasarkan tradisi.

Namun di samping itu, Jawa Barat juga merupakan provinsi yang kaya akan tradisi dan ragam budayanya. Mulai dari seni pertunjukan, tari, musik, hingga upacara adat.

Uniknya, semua upacara yang dimiliki oleh masyarakat Jawa Barat, umumnya memiliki kisah tersendiri dibaliknya.

Baik itu yang berhubungan dengan religi, mitos, kepercayaan, tradisi, ritual, dan lain sebagainya.

Baca Juga:

Daftar Upacara Adat Jawa Barat

Berikut ini adalah daftar beberapa upacara adat di Jawa Barat, yang masih eksis dan dijalankan hingga hari ini.

1. Bubur Syura (Syuro)

Upacara Adat Bubur Syura di Cirebon

Upacara Adat Bubur Syura di Cirebon – Photo by Inapos

Upacara adat Jawa Barat Bubur Syura, tidak ada kaitannya dengan Hari Asyura, atau peringatan wafatnya Imam Husein saat peristiwa Karbala. Imam Husein sendiri, adalah cucu dari Nabi Muhammad.

Bubur Syura, diperingati masyarakat Cirebon setiap 10 Muharam. Tradisi ini lebih berhubungan dengan cerita Nyi Pohaci Sanghyang Sri, yang merupakan Dewi Kesuburan.

Masyarakat Cirebon meyakini, bahwa upacara ini bisa memberikan kesejahteraan dan ketentraman hidup.

Umumnya, upacara dilakukan luar rumah warga, maupun di lapangan, sepanjang pinggir sungai, maupun di lokasi lainnya. Selama, telah disetujui oleh para tetua upacara.

Adapun perlengkapan yang harus disediakan, beberapa diantaranya berupa benda yang dikeramatkan, sesajen, serta alat – alat pembuat bubur. Dan tentunya, akan disempurnakan, dengan acara kesenian.

2. Ngirab (Rebo Wekasan)

Rebo Wekasan

Rebo Wekasan

Ngirab atau Rebo Wekasan, merupakan upacara adat Jawa Barat dengan nilai religius yang amsih dilakukan hingga sekarang.

Pada umumnya, dilaksanakan oleh masyarakat yang ada di sekitar wilayah Sungai Drajat Cirebon. Upacara ini, merupakan tradisi ziarah ke makam Sunan Kalijaga.

Untuk waktunya, adalah setiap Hari Rabu pada minggu terakhir di Bulan Shafar.

Pasalnya, waktu ziarah tersebut dianggap sebagai hari baik, karena bisa mengusir bala dan ketidakberuntungan dalam hidup.

Biasanya Masyarakat Cirebon percaya, di bulan ini untuk tidak melakukan beberapa aktifitas seperti; melakukan perjalanan jauh atau perkerjaan yang cukup berbahaya.

Mereka Dianjurkan di bulan ini banyak membantu orang lain dan memperbanyak sedekah khususnya untuk anak-anak yatim, para janda tua dan kaum jompo.

Pada waktu ini juga lebih meningkatkan dan mempererat tali silaturahmi diantara sesama.

Berkaitan dengan ini maka masyarakat Cirebon selama bulan ini melakukan 3 macam kegiatan yang dikenal dengan “Ngapem, Ngirab dan Rebo Wekasan serta Tawurji”.

3. Ngalungsur Pusaka

Ngalungsur Pusaka

Ngalungsur Pusaka – Photo by 86 News

Upacara Adat Jawa Barat yang masih sering dilakukan berikutnya adalah Upacara Ngalungsur Pusaka.

Upacara ini biasanya dilaksanakan oleh masyarakat Garut, yang dipimpin oleh juru kunci atau yang dikenal sebagai kuncen.

Upacara ini juga membuktikan, bahwa masyarakat setempat masih melestarikan tradisi leluhurnya.

Ngalungsur Pusaka, merupakan tradisi mencuci berbagai barang pusaka, yang dapat ikut disaksikan oleh pengunjung yang hadir.

Upacara adat ini, juga merupakan ajang untuk  memperkenalkan benda pusaka peninggalan Sunan Rohmat Suci.

4. Upacara Mapag Sri

Upacara Mapag Sri

Upacara Mapag Sri

Mapag Sri, adalah upacara adat Jawa Barat yang unik, karena mencampur adat sunda dengan Agama Islam.

Adapun waktu Pelaksanaannya setiap Bulan Agustus, dan ini merupakan ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang didapat. Selain itu, juga untuk mendekatkan diri dengan Sang Kuasa.

Dalam pelaksanaannya, simbol Dewi Sri akan diarak ke sekitar kampung, dengan diiringi oleh berbagai atraksi kesenian.

Setelah itu, akan dilanjutkan dengan pagelaran wayang kulit Purwa, yang bercerita mengenai asal-usul padi.

Dan setelah pagelaran, akan dilanjutkan dengan  selamatan dan acara perebutan air.

Keunikan dari upacara ini adalah, air yang digunakan berasal dari tujuh mata air. Pasalnya, air tersebut dipercaya dapat menolak bala dan penyakit.

5. Upacara Labuh Saji

Upacara Labuh Saji

Labuh Saji – Photo by Budaya Indonesia

Upacara Labuh Suji, banyak dilaksanakan di wilayah Pelabuhan Ratu Sukabumi.

Tradisi ini, merupakan perwujudan dari perilaku nelayan setempat yang menghormati leluhurnya, dan juga sebagai rasa syukur kepada Tuhan.

Tradisi turun temurun tersebut, merupakan penghormatan kepada Nyi Putri Mayangsagara, atas perhatiannya kepada para nelayan.

Tokoh ini sendiri, juga melakukan upacara yang sama sejak abad ke-15, sebagai persembahan kepada Nyi Roro Kidul.

Wanita yang dihormati ini rajin melaksanakan upacara, agar rakyat nelayannya mendapatkan kesejahteraan dari pekerjaannya.

Dan di abad itu, Nyi Roro Kidul dianggap sebagai penguasa laut selatan.

6. Upacara Nadran

Upacara Nadran

Upacara Nadran

Upacara Nadran merupakan tradisi adat Jawa Barat, yang berasal asal dari Bahasa Arab “nadar” atau syukuran.

Adapun pelaksanaannya, sebagai rasa syukur masyarakat nelayan kepada Sang Pencipta.

Atau lebih tepatnya, rasa terimakasih untuk panen ikan yang telah diperoleh, dan mendapatkan hasil yang lebih banyak kedepannya.

Selain itu, upacara adat ini juga dilakukan untuk menghormati Bedug Basu, yaitu leluhur yang dapat menyuburkan ikan di lautan.

Tradisi ini juga dimaksudkan, untuk memohon keselamatan, agar para nelayan bisa terhindar dari gangguan roh jahat.

Sedangkan kesenian yang dilakukan, biasanya berupa pagelaran wayang kulit, tentang cerita Bedug Basu.

Acara dari upacara ini, biasanya dilakukan di Sungai Buntu, dan dilaksanakan setiap Bulan Juni dua minggu berturut – turut.

7. Upacara Hajat Sasih

Upacara Hajat Sasih di kampung naga

Upacara Hajat Sasih di kampung naga

Upacara Adat Jawa Barat lainnya yang masih sering dilakukan masyrakat Sunda adalah upacara Hajat Sasih.

Acara Hajat Sasih sendiri Ritual Terbesar dan Tersakral di Kampung Naga Tasikmalaya. Hajat (dalam Bahasa Sunda) berarti perayaan, dan sasih berarti bulan.

Hajat Sasih merupakan salah satu perayaan dalam bentuk ritual khusus yang dilaksanakan selama dua bulan sekali oleh masyarakat Kampung Naga.

Dan Ritual ini adalah ritual terbesar dan tersakral yang mereka laksanakan dibandingkan ritual-ritual lainnya.

Adapun Ritual Hajat Sasih ini dilaksanakan dengan waktu dan tatacara tertentu yang telah ditetapkan oleh leluhur mereka.

Hajat Sasih merupakan titik kulminasi dari rasa tunduk dan patuh kepada leluhur mereka.

Masyarakat Kampung Naga mengaku berasal dari cikal bakal atau nenek moyang yang sama, yaitu seorang tokoh yang dikenal dengan nama Sembah Dalem Eyang Singaparana.

Dan Tokoh inilah yang menurunkan tata kehidupan dan tata kelakuan yang sampai saat ini dianut dan dilaksanakan oleh seluruh warga masyarakat Kampung Naga atau disebut juga Seuweu Putu Naga.

Hajat Sasih hanya boleh diikuti oleh kaum pria saja.

Acaranya akan Dengan dipimpin oleh Kuncen Kampung Naga, acara ini dimulai sejak pagi hari, tepatnya sejak pukul 09.00 WIB. dan berakhir menjelang shalat dzuhur.

Baca Juga:

Selesai sudah, sedikit cerita tentang Upacara Adat Jawa Barat yang cukup menarik untuk diketengahkan.

Semoga dapat bermanfaat, dan menambah wawasan tentang tradisi dan ragan budaya nasional.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of