KATA OMED

5 Cerita Rakyat Dari Riau

Cerita Rakyat Dari Riau – Budaya Kepulauan Riau banyak mendapatkan pengaruh dari kebudayaan suku Melayu dan etnis Tionghoa.

Selain itu, kebudayaan di Kepulauan Riau juga banyak mendapatkan pengaruh dari budaya Islam, Budha, Kristen, dan Konghucu.

Karena keanekaragaman dari pengaruh budaya tersebut, akhirnya membuat Riau jadi kaya akan cerita rakyatnya, yang cukup menarik

Apakah sajakah kelima cerita rakyat dari Riau tersebut? Kita ikuti terus ulasannya di bawah ini ya Sobat!

Baca Juga:

1. Cerita Putri Tujuh

Putri Tujuh - Cerita Rakyat Dari Riau

Putri Tujuh – Cerita Rakyat Dari Riau

Dahulu kala, di Dumai terdapat sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Seri Bunga Tanjung, dengan ratunya adalah Cik Sima. Sang ratu juga memiliki tujuh orang Puteri, dan yang paling cantik adalah si bungsu Mayang Sari.

Suatu hari, ketujuh putri ini sedang mandi di Lubuk Sarong Umai. Mereka tidak menyadari bahwa ada orang yang sedang memperhatikan mereka. 

Pangeran Empang Kuala yang secara tidak sengaja sedang melewati daerah itu terkagum-kagum dengan kecantikan ketujuh putri itu. Namun, matanya terpaku pada Putri Mayang Sari.

Sekembalinya ke kerajaan, Pangeran Empang Kuala memerintahkan utusannya untuk pergi ke Kerajaan Seri Bunga Tanjung, dan  meminang Puteri Mayang Sari. 

Cik Sima menolak dengan halus pinangan kepada Puteri bungsunya. Alasannya, secara adat putri tertua lah yang seharusnya menerima pinangan lebih dahulu.

Pangeran Empang Kuala murka mendengar penolakan tersebut, hingga mengerahkan pasukannya untuk menyerbu Kerajaan Seri Bunga Tanjung. Mendapat serangan tersebut, Cik Sima segera mengamankan ketujuh puterinya ke dalam hutan. 

Mereka bersembunyi di sebuah lubang, yang terbuat dari tanah dan terhalang oleh pepohonan, serta membekalinya dengan bekal makanan untuk tiga bulan. Setelah itu, dirinya kembali ke medan perang.

Setelah lewat tiga bulan pertempuran tidak juga selesai, akhirnya  membuat Cik Sima meminta bantuan jin yang sedang bertapa di Bukit Hulu Sungai Umai.

Ketika Pangeran Empang Kuala dan pasukannya sedang beristirahat, tiba tiba saja ribuan buah bakau berjatuhan menimpa pasukannya. Dalam kondisinya yang terluka, datanglah utusan Ratu Cik Sima, yang meminta untuk menghentikan peperangan.

Setelah menyadari bahwa pihaknya lah yang memulai semua kerusakan ini, maka dia pun memerintahkan pasukannya untuk mundur.

Sepeninggal pasukan Pangeran Empang Kuala, Ratu Cik Sima bergegas menuju tempat persembunyian ketujuh putrinya. Namun, ketujuh puterinya telah meninggal dunia, karena kelaparan. 

Peperangan berlangsung lebih lama dari perkiraannya , sehingga bekal makanan yang tersedia tidak cukup. Ratu Cik Sima tak kuasa menahan sesal dan kesedihan atas kehilangan semua putrinya, dan akhirnya dia pun meninggal karena sakit.

Pesan moral dari cerita ini adalah, permusuhan akan selalu menimbulkan kerugian dan penyesalan yang tidak terkira

2. Asal Mula Pulau Senua

Cerita Rakyat Dari Riau

Cerita Rakyat Dari Riau – foto ig @gnfi

Di kepulauan Natuna, terdapat suami istri, yaitu Baitusen dan Mai Lamah. Mereka merantau ke Pulau Bunguran, untuk mengadu nasib baik. 

Di pulau tersebut, mereka hidup bahagia, dengan semua penduduknya yang menyukai mereka. 

Salah satu dari penduduk tersebut adalah Mak Semah, seorang bidan kampung yang selalu bersedia menolong mereka.

Hingga suatu hari, Baitusen dan istrinya pun menjadi saudagar teripang yang kaya raya. Kehidupan yang mewah mengubah sifat Mai Lamah, menjadi sombong dan pelit.

Perempuan itu pun tidak mau lagi bergaul dengan para tetangganya yang miskin.

Suatu hari, Mak Semah datang untuk meminjam beras. Mai Lamah malah membentaknya dan mengungkit tentang utang-utang perempuan itu. Mak Semah sangat sedih mendengar ucapan Mai Lamah, dan para tetangga pun menjauhi Mai Lamah.

Saat ketika Mai Lamah siap untuk melahirkan. Mereka sudah memesan bidan dari pulau seberang, namun tak kunjung datang hingga saat kelahiran. 

Akhirnya, Baitusen mencoba meminta bantuan Mak Semah dan tetangga lainnya. Namun, tidak seorang pun bersedia untuk menolong.

Dengan terpaksa, Baitusen membawa isterinya ke pulau seberang untuk menemui bidan, dengan menggunakan perahu. Mai Lamah meminta suaminya untuk membawa semua peti perhiasan dalam perahu mereka.

Baitusen menuruti kemauan istrinya sebelum menjalankan perahu itu. Ternyata, semakin ke tengah, gelombang laut semakin besar, dan menenggelamkan mereka bersama seluruh perhiasannya.

Saat keduanya berusaha menyelamatkan diri, Mai Lamah berpegangan pada ikat pinggang suaminya. Mereka berusaha berenang ke tepian, di tengah gelombang laut yang ganas. Hingga akhirnya terdampar  Pulau Bunguran Timur.

Saat Mai Lamah yang sombong dan kikir menginjakkan kaki di pulau itu, tiba-tiba guntur menggelegar. Tampaknya, tanah Bunguran tidak mau menerima kedatangan perempuan itu, dan merubahnya menjadi sebongkah batu besar.

Namun secara perlahan, batu tersebut berubah menjadi sebuah pulau. Masyarakat sekitar menamai pulau tersebut dengan Pulau Senua, yang artinya berbadan dua atau mengandung. 

Perhiasan yang melilit tubuh Mai Lamah, berubah menjadi burung walet. Pulau ini terletak di ujung Tanjung Senubing, Bunguran Timur. Hingga saat ini, pulau tersebut terkenal dengan sarang burung waletnya.

Pesan moral dari cerita ini adalah, sifat kikir dan tamak akan selalu membawa celaka pada diri kita sendiri. Manusia juga terlahir, untuk saling tolong menolong.

3. Si Lancang Kuning 

Si Lancang Kuning - Cerita Rakyat Dari Riau

Si Lancang Kuning – Cerita Rakyat Dari Riau

Konon, pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang janda miskin dengan anak laki-lakinya yang bernama si Lancang.

Mereka berdua tinggal pada sebuah gubuk, di Kota Kampar. Emak si Lancang bekerja menggarap ladang orang lain, sedangkan si Lancang menggembalakan ternak tetangganya.

Pada suatu hari, si Lancang sudah bosan hidup miskin. Ia ingin bekerja dan mengumpulkan uang agar kelak menjadi orang kaya. Akhirnya ia pun meminta izin emaknya untuk pergi merantau ke negeri orang.

Setelah mendapatkan persetujuan dari emaknya, si Lancang pun pergi meninggalkan kampung halamannya. Emaknya membekalinya dengan beberapa bungkus lumping dodak. makanan kesukaannya.

Akhirnya, si Lancang berhasil menjadi seorang pedagang kaya. Dirinya memiliki puluhan kapal dagang dan ratusan anak buah, serta semua isterinya, yang juga berasal dari kalangan kaya raya.  Sementara itu, sang emak masih tetap hidup miskin.

Suatu hari, si Lancang mengajak para isterinya berlayar ke Andalas. Penduduk di sekitar Sungai Kampar berdatangan untuk melihat kapal megah si Lancang. Rupanya sebagian dari mereka masih mengenal wajah si Lancang. 

Emak si Lancang yang sedang terbaring sakit, gembira mendengar kabar anaknya datang. Dengan pakaian yang sudah compang-camping, dia berjalan tertatih-tatih untuk menyambut anak satu-satunya di pelabuhan.

Namun si Lancang terlalu malu untuk mengakui ibunya sendiri, kepada para isterinya. Setelah mendapatkan pengusiran dari anak kandungnya sendiri, hati sang emak pun hancur lebur.

Dengan hati sedih, wanita tua itu pulang ke gubuknya. Di sepanjang jalan dia menangis, karena tidak menyangka anaknya akan tega berbuat seperti itu kepadanya.

Sesampainya di rumah, wanita malang itu mengambil lesung dan nyiru pusaka. Dia memutar-mutar lesung itu dan mengipasinya dengan nyiru sambil berdoa kepada Tuhan, untuk menunjukkan kuasanya.

Dalam sekejap, gelombang Sungai Kampar menghantam kapal si Lancang, hingga hancur berkeping-keping.

4. Cerita Batu Batangkup

Batu Batangkup - Cerita Rakyat Dari Riau

Batu Batangkup – Cerita Rakyat Dari Riau

Zaman dahulu di dusun Indragiri Hilir, tinggal seorang janda bernama Mak Minah di  gubuknya yang reyot. Dia tinggal bersama anak perempuannya yang bernama Diang, dan dua anak laki-lakinya, Utuh dan Ucin. 

Mak Minah rajin bekerja, dan setiap hari selalu menyiapkan kebutuhan ketiga anaknya. Dirinya  juga sering mencari kayu bakar, dan menjualnya ke pasar, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka.

Namun sayang, ketiga anaknya sangat nakal dan pemalas, serta tidak mau membantu emaknya. Mereka juga sering membantah nasihat ibunya, hingga Mak Minah yang sudah tua bersedih, dan sering sakit-sakitan. 

Suatu pagi, Mak Minah menyiapkan makanan untuk anak-anaknya, dan kemudian pergi ke tepi sungai. Disana dia mendekati sebuah batu yang dapat berbicara. Batu itu juga dapat membuka dan menutup seperti kerang. Orang-orang  menyebutnya Batu Batangkup.

Mak Minah meminta batu tersebut untuk menelannya, yang akhirnya terkabulkan, dan hanya menyisakan ujung rambut panjangnya saja..

Menjelang sore, ketiga anaknya hanya sekedar heran, karena tidak menemukan ibunya  sejak pagi. Namun karena makanan yang ada masih cukup banyak, mereka pun hanya makan, lalu bermain-main kembali. Seolah tidak peduli bahwa ibunya telah menghilang.

Setelah hari kedua, makanan pun habis, mereka  mulai kebingungan dan lapar. Hingga malam hari, mereka tidak bisa menemukan sang ibu. Keesokan harinya, ketika mereka mencari Mak Minah di sekitar sungai, dan melihat ujung rambut ibunya, di dalam Batu Batangkup. 

Mereka pun meratap, meminta ibunya kembali. Akhirnya Mak Minah berhasil keluar dari batu tersebut, dengan janji anak-anaknya, yang akan lebih peduli terhadap ibu mereka.

Setelah itu, mereka pun mulai rajin membantu, menyayangi serta patuh dan  menghormati ibunya. Namun hal tersebut tidak berlangsung lama. Mereka kembali ke tabiat asalnya, yang malas.

Mak Minah pun kembali bersedih, dan meminta Batu Batangkup, untuk kembali menelannya seperti semula. Besoknya, ketiga anaknya mendatangi Batu Batangkup, dan kembali meratap seperti sebelumnya. 

Namun hal tersebut malah membuat Batu Batangkup marah, dan justru menelan mereka semua, dan menenggelamkan dirinya ke dalam tanah. Dan setelahnya, tidak pernah muncul kembali hingga saat ini.

5. Legenda Kota Pekanbaru, Cerita Rakyat Dari Riau

Kota Pekanbaru

Kota Pekanbaru – foto ig @sutawijaya

Kota Pekanbaru adalah salah satu Daerah Tingkat II sekaligus sebagai ibukota Provinsi Riau.

Sebelum menjadi tempat yang terkenal sebagai sumber minyak, Pekanbaru hanyalah sebuah kota pelabuhan kecil yang berada di tepi Sungai Siak. 

Namun, saat ini, Pekanbaru telah menjadi kota yang ramai dengan aktivitas perdagangannya. Letaknya yang strategis, menjadikan kota ini sebagai tempat persinggahan para wisatawan asing, yang hendak berkunjung ke Sumatera

Keberadaan Kota Pekanbaru yang ramai ini memiliki sejarah dan cerita tersendiri bagi masyarakat Riau. Dalam sejarahnya, kota ini hanya merupakan dusun kecil, yang terkena dengan sebutan Dusun Senapelan. 

Namun dalam perkembangannya, dusun tersebut berpindah ke tempat pemukiman baru, yang bernama Dusun Payung Sekaki. Letaknya berada di tepi Muara Sungai Siak.

Perkembangan Dusun Senapelan ini erat kaitannya dengan perkembangan Kerajaan Siak Sri Indrapura. Pada masa itu, Raja Siak Sri Indrapura yang keempat, yaitu Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah, menetap di Senapelan

Dan dalam perkembangangannya, kemudian membangun istananya di Kampung Bukit berdekatan dengan Dusun Senapelan. Atau lokasi tepatnya. berada di sekitar Mesjid Raya Pekanbaru saat ini.

Tidak berapa lama menetap di sana, Sultan Abdul Jalil Alamudin Syah kemudian membangun sebuah pasar di Senapelan. Karena tidak berkembang, akhirnya Raja Muda Muhammad Ali yang merupakan puteranya, mengambil alih pasar tersebut. 

Dan pada  23 Juni 1784 M, Negeri Senapelan berganti nama menjadi Pekan Baharu, atau Pekan Baru pada saat ini. 

Baca Juga:

Nah Sobat, demikian ulasan cerita kita kali ini, tentang 5 cerita rakyat dari Riau. Semoga dapat bermanfaat untuk kamu semua ya

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of