KATA OMED

Masjid Jami Pontianak

Pontianak adalah ibukota  Provinsi Kalimantan Barat yang letaknya tepat pada garis khatulistiwa dan berada di ketinggian 0,10 meter sampai 1,50 meter diatas permukaan laut. Dengan luas wilayah 107,82 km persegi, Pontianak merupakan daerah beriklim tropis dan tumbuhan disana tumbuh dengan subur.

Keadaan cuaca dengan curah hujan berkisar 3000-4000 mm pertahun  ini menguntungkan masyarakatnya. Karena sebagian besar masyaraka disana bermatapencaharian sebagai petani. Mereka menanam ubi, lidah buaya, sayur mayur,  dan buah-buahan seperti pisang, nanas, dan nangka.

Dilihat dari kebudayaannya, Pontianak memliki berbagai macam kebudayaan. Sebagai contoh Suku Dayak yang memiliki kebudayaan yang disebut Gawai yang artinya pesta syukur atas kelimpahan panen. Untuk Suku Tionghoa sendiri sudah pasti mengadakan pesta Tahun Baru Imlek, Cap Go Meh dan acara lainnya.

Ada yang unik dari Pontianak, yaitu festival Budaya Bumi Khatulistiwa dan biasanya mengundang daerah diluar pulau Kalimatan seprti Sumatera dan Jawa. Festival ini menampilkan peristiwa alam yang terjadi di Pontianak, yaitu Kulminasi Matahari.

Untuk pariwisatanya sendiri, Pontianak bisa dibilang barisan paling depan kota yang paling banyak memiliki tempat wisata favorit. Ada wisata kuliner seperti ikan asam pedes, lemang, tau swan, yam mi, peng keng, minuman lidah buaya, ki cang, lempok durian, nasi capcai, pacri nanas, pekasam, bakcang, bubur bpedas, dan masih banyak lagi.

Sedangkan untuk wisata alam seperti Tugu Khatulistiwa, Pantai Kijang, Bukit Kelam, Air Terjun Ambawang, Museum Negeri Pontianak, Pantai Jungkat, Wisata Hutan Baning, Masjid Jami dan masih banyak lagi lainnya.

Kali ini, kita akan membahas mengenai salah satu tempat wisata bersejarah, yaitu Masjid Jami. Penasaran seperti apa? Simak info lengkapnya berikut ini

sumber gambar – amazingborneoindonesia.com

Lokasi

Berlokasi di Kampung Beting, Kelurahan Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur, Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Lokasi ini berada di kawasan pemukiman padat penduduk dan menghadap ke Sungai Kapuas.

Untuk bia menuju kesana, bisa menggunakan Sampan dari Pelabuhan Seng Hie atau kendaraan darat melewati jembatan Kapuas.Sedangkan jika ingin menggunakan jalur darat bisa menggunakan bus yang melewati jembatan Sungai Kapuas.

Sejarah Masjid Jami’ Pontianak

Masjid Jami’ Pontianak dikenal dengan nama Masjid Sultan Syarif Abdurrahman yang merupakan masjid tertua dan terbesar di Pontianak. Masjid ini petama kali didirikan oleh Sultan Syarif Abdurrahman pada tahun 1771. Sultan Syarif adalah salah satu orang yang menyebarkan agama islam di daerah ini.

Selama ia melakukan perjalanan untuk berdakwah, ia bersama rombongan menyusuri Sungai Kapuas dan menebas hutan dekat muara untuk dijadikan pemukiman baru. Nah disitulah masjid Jami’ pertama kali dibangun.

Majid tersebut beratap rumbia dan bangunannya terbuat dari kayu. Pada tahun 1808 Sultan Syarif meninggal dunia dan pembangunan masjid dilanjutkan oleh adiknya yang bernama Syarif Kasim karena pada waktu itu anak dari Sultan syarif, yaitu Syarif Usman masih kecil. Setelah dewasa, Syarif Usman pun melanjutkan pembangunan masjid tersebut dan dinamakan Masjid Abdurrahman karena untuk mengenang jasa-jasa ayahnya.

Keadaan Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman

sumber gambar – indonesiakaya.com

Majid Jami’ berukuran 33,27 meter x 27,74 meter dan dapat menampung sekiar 1.500 jamaah shalat. Untuk tempat shaf juga sudah diatur dengan rapi, jadi untuk tempat shalat terdiri dari 26 shaf, dan setiap shafnya terdiri dari 50 jamaah.

Sama seperti masjid pada umumnya, masjid ini akan dipenuhi pada saat shalat jum’at, Idul fitri, Idul adha, dan shalat Tarawih pada Bulan Ramadhan. Untuk shalat lima waktu, masjid ini tidak seramai pada saat shalat di waktu yang telah disebutkan sebelumnya. Namun jika saat hari libur, banyak wisatawan yang berkunjung ke masjid ini sembari melaksanakan sembahyang atau ibadah lainnya.

Bangunannya bisa dibilang mirip dengan rumah panggung, karena tiang kayu masjid ini di cor setinggi 50 cm diatas permukaan dan 50 cm ke dalam tanah untuk mencegah pelapukan. Warna yang identic dari masjid ini adalah warna kuning dan plafonnya warna hijau. Bukan sembarang memberikan warna pada masjid ini, ternyata memang dibalik pewarnaan itu ada makna yang tersirat. Warna kuning melambangkan keagungan sedangkan warna hijau melambangkan kenabian atau ke-islaman.

sumber gambar – indonesiakaya.com

Untuk atapnya, itu memanfaatkan lembaran kayu bulian dan ditumpuk menjadi 4 tumpukan. Jendelanya terletak diantara atap paling bawah dan kedua. Jadi, disekililing celah antara atap kedua dan paling bawah itu dibuatlah jendela. Ruangan di dalam masjid pun mendapatkan cahaya matahari yang cukup.

Tak hanya itu, dibagian atas atap kedua, terdapat teras luas berbentuk persegi panjang dan disetiap sudutnya dibuat sebuah gardu. Ada empat gardu yang melambangkan empat sahabat Nabi Muhammad yaiu Abu Bakar As Shidiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Selain makna tersebut, dulunya gardu tersebut digunakan sebagai tempat untuk adzan.

Bentuk menara ini seperti lonceng, karena diatas atap lapis ketiga terdapat sebuah gardu yang berfungsi sebagai menara. Bentuknya mirip dengan huruf S, sehingga dari kejauhan tampak seperti lonceng.

Tersedia pintu utama dengan tinggi 3 meter yang berada di depan, sisi kiri, dan sisi kanan. Untuk pintu kecil, terdapat sekitar 20 buah pintu yang tingginya kurang dari 2 meter. Pintu ini juga berfungsi sebagai jendela terlebih lagi pintu tersebut dipasangi papan pagar sehingga ukurannya telihat lebih kecil lagi menyeupai jendela pada zaman sekarang.

sumber gambar – bujangmasjid.blogspot.com

Masjid ini benar-benar bernilai sejarah yang tinggi, dan para pengurus masjid nya pun mempertahankan keaslian dari bangunan tersebut. Masjid ini adalah saksi bisu perjuangan penyebaran agama islam di Pontianak.

Pernah suatu ketika bangunan masjid ini ditambah dengan dua buah menara, namun akhirnya dibongkar dan dikembalikan menjadi bentuk semula agar bangunan ini tetap asli hingga kapanpun. Sejak saat itu tidak pernah lagi ada perubahan arsitektur pada masjid ini. Untuk pembangunan kembali ini menghabiskan dna sekitar Rp 92 miliar.

Area pembangunan masjid Jami’ sangatlah luas. Dari sini, kita bisa melihat Isana Sultan Kraton Kadriyah dan lapangan yang menyerupai alun-alun di Jawa. Ini menunjukkan jika adanya pengaruh dari tradisi kesultanan di anah Jawa.

Nah, setelah dijelaskan secara lengkap mengenai Masjid Jami’ Pontianak, apakah kamu tertarik untuk mengunjunginya? Sayang sekali jika sudah berada di Pontianak namun melewatkan untuk menginjakkan kaki di bangunan bersejarah ini.

Share Artikel ini lewat
  •  
  •  
  •  
  •  

Omed

Bapaknya komunitas Backpacker Jakarta yang hanya ingin menceritakan pengalaman saya berkeliling Indonesia selama 360 Hari ke 34 Provinsi dan lebih dari 380 Kabupaten atau kota se Indonesia. Jangan lupa Follow Instagram @kataomed untuk melihat aktivitas dan keseharian saya

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of