KATA OMED

Perjalanan Solo Backpacker ke Lembah Bada Poso

Perjalanan Menuju Lembah Bada Cukup Melelahkn Karena Selain Kita Harus Melintasi Lembah Dan Perbukitan Disekitarnya, Tekanan Yang Tinggi Diatas Ketinggian Juga Membuat Telinga Kita Terasa Sakit.

Harus Sering Sering Menahan Nafas Dan Mengeluarkanya Lewat Telinga, Mirip Dengan Saat Kita Diatas Pesawat.

Sekitar 2 Jam Melewati Lembah Dan Jalan Yang Sempit, Mobil Yang Saya Naiki Berhenti Sejenak Ditempat Warung Kecil.

Warung Ini Sepertinya Memang Dibuat Untuk Tempat Peristirahatan Para Supir Atau Para Pelintas Sebab Tak Ada Lagi Bangunan Disekitarnya.

Patung Palindo Lembah Bada Poso

Patung Palindo Lembah Bada Poso

Perjalanan Dilanjutkan Kembali Setelah Sang Supir Merasa Fit Kembali Dan Sayapun Sempat Menyeruput Kopi Sejenak Agar Tak Terlalu Mengantuk. Menurut Orang Disebelah Saya, Perjalanan Ke Lembah Bada Masih Sekitar 2 Jam Lagi.

Sebenarnya Jika Dicek Melalui Maps Kita Hanya Butuh Waktu Sekitar 2 Jam Saja. Makanya Awalnya Saya Berfikir Mengapa Tidak Naik Motor Saja.

Tapi Pada Kenyataanya Yah Karna Jalanan Yang Cukup Ekstreem Dan Kabut Yang Kerap Kali Datang Membuat Laju Kendaraan Sedikit Pelan.

Dan Difikir-Fikir Lebih Enak Naik Mobil Dibanding Naik Motor. Apalagi Saat Embun Atau Kabut Turun, Badan Akan Basah Dan Udaran Diluar Sangt Dingin.

Akhirnya Setelah 4 Jam, Mobil Yang Saya Naiki Mulai Memasuki Perkampungan Kecil Menandakan Bahwa Kita Sudah Tiba Di Kawasan Lembah Bada.

Jalanan Mulai Terliht Mendatar Dan Kanan Kiri Sudaj Banyak Pemukiman Hingga Akhirnya Satu Persatu Desa-Desa Mulai Terlewati Pun Dengan Penumpangnya Yang Satu Persatu Mulai Turun.

Rumah Adat Tambi Kaliade di dekat Patung Palindo

Rumah Adat Tambi Kaliade di dekat Patung Palindo

Kawasan Lembah Bada Ternyata Sangat Luas Sekali. Awalnya Saya Mnegira Lembah Bada Hanya Seperti Kawsan Perkampungan Kecil Saja Namun Ternyata Dilembah Ini Ada 2 Kecamatan Dan Lebih Dari 30 Desa.

Bahkan Sepanjang Saya Melihat Kanan Dan Kiri, Sudah Banyak Sekali Bangunan Seperti Halnya Kawasan Kecamatan Yang Dipenuhi Warung-Warung, Gereja Hingga Kerumuman Warga.

Sepertinya Selama Saya Memasuki Lembah Bada, Saya Tidak Melihat Adanya Bangunan Masjid . Dan Saat Saya Bertanya Ke Sang Supir, Dia Menjelaskan Jika Kawasan Bada Adalah Kawasan Nasrani Dimana Kawasan Ini Dihuni Oleh 99 Persen Penduduk Yang Beragama Nasrani.

Biasanya Yang Beragama Muslim Hanya Pendatang Orang Bugis Atau Pendatang Dari Jawa.

Tanpa Sadar Ternyata Saya Baru Menyadari Jika Saya Adalah Penumpang Terakhir. Akhh Saya Sampai Lupa Untuk Memberikan Alamat Tempat Kediaman Saya Di Bada.

Selama Diperjalanan Saya Bercerita Cukup Banyak Dengan Supir Yang Juga Ternyata Seorang Perantau Dari Makassar.

Lembah Bada

Lembah Bada

Semenjak Kerusuhan Poso Dan Tentena, Pendatang Khususnya Yang Beragama Muslim Enggan Masuk Ke Kawasan Tentena Dan Lebih Memilih Berada Dikota Poso.

Akhirnya Sekitar Pukul 16.00 Kendaraan Yang Saya Naiki Tiba Juga Di Sebuah Rumah Kecil Dan Disampingnya Berdiri Sebuah Rumah Adat Sederhana Yang Terbilang Sangat Unik.

Oh Ya Guys, Karena Saya Naik Travel Dan Diantar Jemput Kerumah Maka Biayanya Sedikit Lebih Mahal Dari Biaya Naik Kendaraan Umum Seperti Damri.

Jika Naik Travel Dari Tentena Ke Bada, Kita Akan Dikenakan Biaya Rp 100.000 / Penumpang Dan Jika Menggunakan Bus Damri Dari Tentena Ke Bada Maka Kita Hanya Dikenakan Biaya Rp 50.000 Saja.

Untuk Waktu Tempuhnya Memang Naik Travel Jauh Lebih Cepat Dan Lebih Nyaman.

Pak Agus, Rumah Adat Tambi & Keseharianya

Pak Agus Sepertinya Cukup Kaget Dengan Kedatangan Saya. Sebelumnya Memang Saya Sudah Menghubungi Beliau Jika Saya Akan Tinggal Dirumahnya Selama Beberapa Hari Dan Minta Ditemani Keliling Bada.

Dia Tidak Menyangka Jika Saya Datang Lebih Awal Dan Bahkan Sudah Sampai Depan Rumah.

Perkenalan Awal Saya Dengan Pak Agus Saat Itu Cukup Singkat. Setelah Dipersilahkan Masuk Kerumah Adat Tambi Yang Ternyata Dia Buat Sendiri Saya Juga Sempat Mencicipi Hidangan Minuman Dan Cemilan Yang Disediakan Oleh Keluarga Pak Agus.

Pak Agus Adalah Seorang Seniman Hebat Yang Sejak Dulu Sudaj Berbuat Banyak Terutama Memperkenalkan Sosial Budaya Dan Kehidupan Masyarakat Bada Kepada Semua Pihak Di Indonesia Bahkan Dunia.

Beliau Ini Sering Kali Diundang Berbagai Pemerintahan Hingga Lembaga Dan Acara Acara Budaya Untuk Mewakili Masyarakat Bada.

Saya Sih Tidak Heran Mengapa Beliau Menjadi Panutan Dala Hal Buday. Rumah Tambi Yang Dia Buat Sendiripun Sangat Unik Dan Sangat Beradat. Didalam Rumah Tambi Ini Banyak Sekali Aksesoris Dan Kerajinan Beliau Yang Dibuat Sendiri.

lembah bada poso

lembah bada poso

Ada Kalung Dan Manik Manik Maupun Tas Yang Terbuat Dari Biji Ketapang. Serunya Lagi, Biji-Bijian Ini Beliau Buat Sendiri Dan Dikumpulkan Sendiri Hingga Akhirnya. Berbentuk Seperti Tas, Dompet Atau Kalung.

Kerajinan Lainnya Yang Berhasil.Mencuri Perhatian Orang Banyak Termasuk Saya Adalah Baju Yang Terbuat Dari Kulit Kayu.

Banyak Orang Dibuat Penasaran Dengan Baju Yang Dihasilkan Dari Kulit Kayu. Bada Memang Terkenal Dengan Budaya Kulit Kayunya Namun Saat Ini Sudah Sangat Jarang Sekali Orang Yang Membuat Baju Atau Tas Dari Bahan Kulit Kayu Langsung.

Nah Pak Agus Dan Teman Temanya Ini Adalah Sebagian Kecil Orang Yang Masih Mempertahakan Budaya Bada. Salutttt.

Karena Hari Sudah Semakin Sore Dan Kebetulan Gerimis Yang Awalnya Muncul Saat Saya Tiba Di Bada Perlahan Mulai Berhenti.

Pak Agus Sepertinya Memahami Waktu Saya Yang Singkat Sehingga Beliau Langsung Menawarkan Saya Untuk Berkeliling Kawasan Bada Dan Melihat Apa Yang Harus Saya Lihat.

Tanpa Buang Waktu Lagi, Saya Dan Pak Agus Berlalu Meninggalkan Rumah Tambi Menuju Kawasan Purba Yakni Patung-Patung Megalitikum Yang Masih Tersisa.

Badaaa Akhirnya Saya Tibaaa….

Kawasan Lembah Bada Terbagi Kebeberapa Wilayah. Ini Juga Yang Menjadi Penanda Kawasan Arca Purba Disetiap Tempatnya. Dan Arca Atau Patung Purba Yang Pertama Saya Datangi Adalah Patung Palindo

Patung Palindo, Patung arca pertama

Kawasan Megalitikum Lembah Bada Poso

Patung Palindo, Kawasan Megalitikum Lembah Bada Poso – foto kataomed

Untuk Menuju Patung Arca Pertama Ini Memang Hanya Bisa Dilalui Oleh Kendaraan Bermotor Saja Sebab Jalan Yang Akan Kita Lalui Adalah Jalan Setapak. Kita Juga Harus Melewati Perkebunan Dan Persawahan Milik Warga.

Sebenarnya Mobil Juga Bisa Lewat Hanya Saja Siap-Siap Kalian Akan Melewati Lumpur Dan Becek Plus Jalan Sempit Yang Mana Saat Ada Kendaraan Dari Arah Depanya Kalian Harus Mundur Cukup Jauh.

Jadi Berkendara Dengan Motor Adalah Pilihan Paling Tepat Guys.

Patung Palindo Adalah Salah Satu Patung Purba Yang Amat Terkenal Hingga Kemancanegara. Batuan Megalitik Yang Paling Terkenal Di Lembah Bada Poso Ini Selain Karena Bentuknya Yang Masih Terlihat Jelas Juga Karena Ukuranya Yang Paling Besar Diantara Patung-Patung Lainnya.

Akh Saya Sangat Bahagia Bisa Melihat Dan Menyentuh Langsung Arca Pertama Ini. Jujur Saya Memang Sangat Menggumi Sesuatu Peninggalan Yang Bersejarah Entah Itu Arca, Candi Hingga Tulang Belulang Manusia Purba.

Sayangnya Karena Waktu Yang Terbatas Membuat Saya Dan Pak Agus Harus Segera Bergegas Mengunjungi Arca Lainnya Yakni Arca Patung Langka Bulawa.

Sama Halnya Dengan Jalanan Menuu Arca Yang Pertama, Jalan Kecil Dan Sempit Plus Licin Berlumpur Juga Akan Kalian Jumpai Saat Menuju Arca Yang Kedua.

Apalagi Lokasinya Berada Cukup Jauh Dari Pemukiman Warga Membuat Kita Harus Sering Bertanya Kepada Warga Setempat.

Untungnya Saya Bersama Pak Agus Yang Tanpa Perlu Repot Dan Bertanya Lagi Sudah Tau Dan Apal Lokasi Acranya Dimana.

Patung Langka Bulawa

Patung Megalitik di Lembah Bada

Patung Langka Bulawa , Patung Megalitik di Lembah Bada

Arca Yang Kedua Atau Patung Langka Bulawa Ini Adalah Arca Yang Berbentuk Sosok Wanita Dan Mempunyai Arti Nama Ratu Bergelang Kaki Emas.

Patung Langka Bulawa Ini Sekilas Ukirannya Hampir Sama Dengan Watu Palindo Tetapi Mempunyai Kesan Raut Muka Sebagai Sosok Rumah Suku Lore.

Patung Ini Terletak 5 Kilometer Dari Patung Palindo Dan Tentunya Masih Berada Dilembah Bada.

Saya Semakin Takjub Dengan Area Disekitar Arca Yang Kedua. Hamparan Rerumputan Hijau Memenuhi Sepanjang Kawasan Area Arca.

Oh Ya Arah Arca Ini Menghadap Kearah Matahari Terbenam. Menurut Pak Agus Dia Sering Menghabiskan Waktu Senja Diarca Ini.

Sayang Saat Saya Kesini Cuaca Masih Sore Dan Sepertinya Cukup Lama Jika Saya Harus Menanti Sunset Sementara Masih Ada Banyak Arca Lainnya Yang Harus Saya Datangi.

Puas Memandang Dan Menggumi Arca Yang Kedua, Pak Agus Mengingatkan Saya Kembali Untuk Segera Menyudahi Di Arca Ini.

Meski Cukup Berat Dan Masih Ingin Berlama-Lama Namun Saya Sadar Waktu Yang Singkat Ini Harus Saya Manfaatkan Sebaik-Baiknya.

Perjalanan Saya Dan Pak Agus Selanjutnya Adalah Menuju Arca Ketiga Yang Menurut Pak Agus Adalah Arca Yang Unik Dan Berbeda Dikawasan Lembah Bada..

Woww Saya Semakin Penasaran.. Bersambung

Untuk Dokumentasi Lainnya Menyusul Yah Karena Masih Ada Kendala…

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of