KATA OMED

Sekilas Cerita Perjalanan menembus Pedalaman Papua

Kamu pernah berkunjung ke Papua ? Yap Pulau teeluas di Indonesia ini hanya punya 2 Provinsi yakni Provinsi Papua dan Papua Barat. Memang myoritas daerah pesisir pantai papua bisa dibilang sudah sangat maju dan lebih ramai dibanding kota lainya di Sulawesi atau di Sumatera sebut saja mulai dari Merauke, Sorong, Manokwari hingga Jayapura. Bahkan daerah pesisir dicap sebagai daerah dengan zona aman di Papua.

Honai Rumah Adat Papua yang ada di wamena

Ada wacana pembentukan Provinsi baru lagi di Papua seperti Papua Tengah meliputi Biak, Nabire dan sebagainya kota lainnya dan Provinsi Papua Timur meliputi Merauke dan sekitarnya. Sebenarnya pemerintah sudah meningkatkan pemekaran daerah melalui banyaknya pembentukan kabupaten baru meski yah bisa dibilang banyak kabupaten baru saya nilai lebih mirip kecamatan dibanding kota, mengingat minimnya fasilitas dan insfrastruktur didaerah tersebut.

Jika kamu pernah datang ke Papua, pernahkah kamu berkunjung ke kesalah satu daerah pedalaman Papua yang jauh dari Pesisir laut alias pegunungan ?

Bandar Udara Wamena

Saat saya mengunjungi salah satu daerah yang bisa dibilang masih masuk zona merah dan berada dikawasan pegunungan papua, saya melihat sendiri bagaimana kehidupan warga dan sosial didaerah tersebut. Meski pemerintah sudah membangun daerah otonomi khusus dan membangun besar-besaran berbagai fasilitas umum seperti bandara internasional, rumah sakit, perkantoran mewah hingga pasar, nyatanya itu hanya sebatas diperkotaan saja.

Tetapi saat saya mencoba memasuki kedaerah pedalaman lagi, saya melihat begitu banyaknya hal-hal yang menimbulkan pertanyaan dibenak saya. Untuk warga yang akan pergi keluar kota khususnya warga yang bukan masyarakat lokal alias pendatang, wajib didampingi dan dikawal oleh aparat kepolisian atau tentara. Bahkan kita juga dilarang berpergian diatas jam 5 sore apalagi pergi sendirian.

Pos Napua Pos keamanan menuju pedalaman Wamena

Awalnya saya sedikit bingung tetapi selama diperjalanan saya merasakan sendiri apa yang sesungguhnya dirasakan oleh Masyarakat disini. Ada beberapa ruas jalan Beraspal mulus menuju kawasan perbukitan, menembus hutan belantara hingga berkilo-kilo jauhnya sampai pada akhirnya kita tiba dikawasan jalan berbatu dan menanjak yang cukup terjal.

Dalam benak saya bertanya, untuk apa pemerintah membangun jalanan diatas pegunungan ini, saya tidak nelihat adanya perkampungan warga atau pusat keramaian. Yang ada justru hanya hutan belantara. Kenapa jalannya harus melalui jalur ini, kenapa tidak melalui jalur lainya ?

Petugas atau Tentara yang mengawal menuju Habema

Lamunan saya seketika buyar saat petugas menembakan senjatanya kelangit setiap beberapa jam. Menurut petugas tujuan agar para pemberontak atau pihak pihak anggota bersenjata segera menjauh dari jalur tersebut. Oh ya, Saya bertemu dengan banyak warga lokal yang hanya mengenakan koteka berjalan kaki ditengah dinginya cuaca dan terjalanya jalanan. Saya juga melihat Beberapa ibu-ibu memanggul bahan makanan atau sayuran yang berjalan kaki tanpa mengenakan alas kaki san bahkan penutup dada.

Sedikit shock sih saya melihatnya, karna saya yang ada didalam mobilpun kedinginan, padahal saya sudah memakai jaket tebal. Rasa penasaran saya akhirnya terjawab oleh supir yang mengebudi kendaraan. Beliau mengatakan jika para warga yang berjalan kaki tersebut berasal dari distrik pedalaman yang ingin menuju kota menjual hasil panennya. Mereka biasanya berjalan kaki berhari-hari untuk sampai dikota. Tetapi semenjak banyak jalan dibangun, mereka hanya butuh 8-10 jam berjalan kaki saja. Sesekali mereka juga biasanya menumpang kendaraan yang melintas dijalan.

Pesona Danau Habema Jayawijaya

Ketika mobil beristirahat sejenak saya sempat ngobrol dengan petugas yang mengawal mobil yang kami tumpangi. Beliau mengatakan jika Disini sering terjadi aksi kriminal mulai dari pembunuhan oleh anggota bersenjata yang merampok bawaan penumpang atau hanya sekedar menembar teror kepada warga. Dan salah satu alasan mengapa sulitnya daerah pedalaman dibangun jalan, yah selain karena mahalnya bahan material, terjalnyan jalur yang akan dilintasi juga karena satu hal ini yang membuat saya kaget.

Beberapa distrik justru tidak menginginkan adanya pembangunan jalan dengan alasan warga didistrik tersebut akan tersingkir oleh para pendatang. Selain itu juga pendatang akan merubah kehidupan mereka. Banyak jalanan yang terputus jalurnya dan tidak selesai pembangunananya karena terhalang oleh perizinan adat setempat. Atau karena kasus lainya dimana para pekerja diteror dengan ditembaki atau diusir oleh sekelompok orang yang membuat para pekerja ketakutan. Oh tuhan, sebegitu kerasanyakah perjuangan pemerintah membangun Papua.

Jalan trans Papua hingga Batas Batu Puncak Tertinggi di wamena

Saya sangat-sangat mengapresiasi pemerintah yang sekrang melirik pembangunan di papua. Tidak hanya jalan trans papua yang menghubungkan antar kota saja tetapi juga pembangunan bandara, rumah sakit, pelabuhan hingga pasar. Mungkin selama ini saya dibutakan oleh pesatnya kemajuan disemua wilayah di Jawa, Sumatera hingga Sulawesi. Tanpa sadar saya tidak melihat betapa mirisnya kehidupan warga dipulau yang kaya ini dan bagian dari NKRI.

Dulu untuk menuju daerah pedalaman hanya bisa dilakukan melalui pesawat udara saja. Itupun dengan biaya yang cukup tinggi. Bahkan untuk ke ibu kotanya saja mereka harus berjalanan kaki atau menembus hutan belantara . Kini harga tiket pesawat sudah normal dan bisa dibeli oleh orang biasa karena kini sudah banyak penerbangan kekota tersebut. Selain karena bandaranya yang sudah sangat bagus juga karena dikota lebih aman.

Pembangunan jalan Trans Papua menembus Bukit berbatu

Oh Papuaku, maafkanlah aku yang selama ini lupa jika kamu itu ada dan bagian dari saudara saya sebangsa senegara. Maafkan aku yang selama ini termanjakan dengan segudang fasilitas negara dan buta jika kamu diluar sana selama ini sangat menderita.

Saya mengucapkan Turut berduka cita atas meninggalnya para pekerja Jalan Trans Papua yang menjadi korban pembunuhan Klompok Kriminal Bersenjata.

@kataomed

Omed

Bapaknya komunitas Backpacker Jakarta yang hanya ingin menceritakan pengalaman saya berkeliling Indonesia selama 360 Hari ke 34 Provinsi dan lebih dari 380 Kabupaten atau kota se Indonesia. Jangan lupa Follow Instagram @kataomed untuk melihat aktivitas dan keseharian saya

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of